Dirjen Pendidikan Islam( Pendis) Departemen Agama( Kemenag), Muhammad Ali Ramdhani mengenalkan 5 konsep dalam proses pendidikan Agama Islam yang terangkum dalam kata IHSAN dikala workshop pembinaan guru Madrasah di Makassar, Sulawesi Selatan pada Rabu( 4/ 11).

” Kata IHSAN ialah akronim dari integritas, humanisme, spiritualitas, adaptability, nationality,” kata Ramdhani lewat siaran pers yang diterima Republika. co. id, Jumat( 6/ 11).

Pertama, Integritas.

Maksudnya pendidikan Islam wajib sanggup menghasilkan ataupun melahirkan alumni madrasah yang mempunyai integritas. Proses pengajaran dalam pendidikan Islam tidak cuma sebatas transformasi keilmuan ataupun mengarahkan ilmu pengetahuan.

Siswa madrasah wajib menguasai betul tentang eksistensi ia selaku manusia dengan integritas yang baik. Siswa madrasah wajib menguasai baik tentang arti kejujuran dalam kehidupannya. Karena nilai yang tidak dapat dipertukarkan dengan apa juga merupakan nama baik, yang terekspresi dalam nilai- nilai kesalehan sosial.

Kedua, kemanusiaan.

Maksudnya proses pendidikan yang berlangsung di madrasah wajib sanggup menunjukkan nilai- nilai kemanusiaan. Tiap proses pengajaran di madrasah jangan hingga jadi beban tertentu untuk anak didik.

” Jangan kita bebani anak didik kita dengan perihal yang di luar keahlian mereka. Karena esensi dari humanisme merupakan menempatkan suatu pada tempatnya cocok porsinya. Humanisme jadi keseimbangan dari konsep integritas,” ucapnya.

Ketiga, spiritualitas.

Maksudnya orang yang mempunyai nilai- nilai spiritual, aktivitasnya senantiasa diniatkan selaku ibadah. Guru yang sadar kalau proses serta eksistensi hidupnya merupakan membagikan arti terhadap orang lain, tidak cuma memikirkan diri sendiri, hingga ia mempunyai nilai spiritual yang baik.

” Tiap guru dalam mengajar wajib senantiasa diniatkan selaku suatu ibadah. Ibadah dalam mempersiapkan generasi berintegritas yang hendak mengisi peradaban mendatang,” jelas Ramdhani.

Keempat merupakan menyesuaikan diri.

Maksudnya keahlian manusia buat menyelaraskan diri serta berdialog dengan area strategis di sekitarnya, tanpa kehabisan identitasnya. Bagi Ramdhani, menyesuaikan diri wajib jadi kekuatan buat menguasai, kalau suatu lembaga pendidikan wajib memperkenalkan anak era. Mereka yang beribukan waktu berayahkan era hendak menari bersama era buat menarikan era.

Dia menarangkan, dalam konteks pendidikan, dinamika era hari ini merupakan kebutuhan manusia terhadap kemampuan teknologi.” Orang yang hebat pada hari ini merupakan orang yang sanggup membaca masa depan dengan baik. Guru yang hebat hendak sanggup melahirkan anak didik yang hendak dapat memahami zamannya,” jelasnya.

Kelima merupakan kebangsaan.

Ramdhani menarangkan, proses pendidikan madrasah wajib mengarahkan kecintaan pada Tanah Air. Itu merupakan bagian dari batang badan seseorang manusia serta lembaganya. Guru serta anak didik di madrasah wajib menyayangi Tanah Air.

” Kita wajib tanamkan kepada partisipan didik kalau menyayangi Tanah Air merupakan bagian daripada iman,” ucapnya.

Ramdhani pula menekankan kepada guru madrasah buat terus belajar. Baginya, orang yang terus belajar merupakan owner peradaban masa depan.

Eksistensi belajar merupakan eksistensi kehidupan, berhentinya belajar merupakan berhentinya kehidupan.

Tujuan itu jadi terus menjadi susah dicapai manakala lembaga pendidikan dijalankan cuma dengan mengedepankan ukuran- ukuran yang bertabiat resmi. Pendidikan Islam menjangkau aspek yang lebih dalam, ialah pada daerah hati. Perkara seperti itu yang sesungguhnya jadi problem pendidikan Islam. Membangun keelokan hati tidak lumayan dilalui cuma dengan membaca novel, mencermati ceramah, menjajaki seminar, serta sejenisnya. Seperti itu sebabnya, substansi pendidikan Islam tidak hendak sukses diraih cuma lewat aktivitas belajar mengajar, serta terlebih yang bertabiat resmi.

Sepatutnya aktivitas pendidikan menjangkau aspek yang sesungguhnya jadi sumber sikap seorang. Sumber diartikan nyatanya bukan pada otak ataupun ide, melainkan pada apa yang terdapat di dalam hati seorang. Aktivitas keilmuan ataupun akademik cumalah sebatas penuhi kebutuhan ide ataupun rasio. Perihal itu berbeda dengan kebutuhan hati, dia membutuhkan komunikasi dengan Dzat Yang Maha Pencipta. Oleh sebab itu substansi pendidikan Islam baru hendak diraih manakala kebutuhan hakiki diartikan sukses dipadati. Wallahu alam

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *